
Apa hubungannya ya antara Mie Ayam dengan hari Valentine? Mie Ayam adalah makanan kesukaan saya yang setengah mati sukanya sampai kalau jalan ke mana-mana pasti yang dicari Mie Ayam. Kenapa Mie Ayam? Karena rasanya yang gurih, asin, manis, dan pedes asem kalau ada acar rawitnya, bikin saya selalu nyaman. Nikmatnya tuh bisa dibilang sampai KLIMAKS ke ubun-ubun! Mungkin ini yang disebut-sebut hashtag #foodgasm . Saya orgasme setelah makan Mie Ayam. Hehe.. canda ya Mams.
Kembali lagi ke soal Valentine dan Mie Ayam. Level kecintaan saya pada Mie Ayam itu memang sebegitu tingginya sehingga saya rela jauh-jauh dari Pondok Gede ke Bakmi Gang Kelinci di Pasar Baru hanya untuk menikmati Mie Ayam legendaris yang sukses sudah bikin saya jatuh cinta sejak pertama kali saya cicipi kala SD dulu. Gak beli apa-apa ya ndak apa-apa asalkan setelah itu bisa menikmati semangkuk mie ayam dengan toping ayam dan jamur yang melimpah, diselingi menyeruput kuah hangat nan gurih berisi pangsit rebus. Tak lupa pula kerupuk pangsit yang dicocol sausnya yang pedas segar. Kebayang kan, seindah itu percintaan saya dengan mie ayam.
Tapi sayangnya kolesterol dan darah tinggi serta gula darah saya tidak bisa lama-lama bermesraan dengan si mie ayam. Jadi, cukuplah maksimal satu minggu sekali kita bergumul ya mie ayamku sayang.
Bicara hari Valentine, atau hari kasih sayang, sebetulnya saya cuek-cuek saja dengan 14 Februari. Tapi tahun ini sepertinya koq asyik juga kalau untuk seru-seruan saja, belum terlalu seserius harus menyiapkan ini itu hadiah untuk orang-orang tersayang. Tapi lumayan untuk mood booster bikin saya jadi lebih bersemangat.
Seperti yang saya jumpai beberapa hari lalu di sebuah mal di Jakarta Selatan. Meski pandemi seperti sekarang ini, tidak menyurutkan minat orang-orang untuk sekadar membeli cokelat, atau boneka berpita yang tampak sangat manis. Di salah satu toko saya sempat tergoda untuk menghadiahi orang tersayang saya boneka yang sedang memangku permen cokelat. Namun kemudian saya ingat masih ada stock cokelat mede legendaris di rumah. Akhirnya saya urungkan niat membeli si boneka cantik itu.
Alhasil, minggu 14 Februari ini saya berikan cokelat mede sederhana itu untuk orang yang paling saya cintai, yaitu anak saya! Padahal, di saat yang bersamaan dari jauh sayup-sayup mulai terdengar suara mesra kentongan mamang Mie Ayam memasuki ujung jalan rumah saya. Ah, Mie Ayam, maaf ya, kali ini saya mau kemulan dulu sama anak wedhok dan menikmati segigit cokelat mede!! 🙂

Leave a comment