Kiat Menghadapi Anak Tidak Suka Olahraga

Seringkali saya mengajak anak untuk berolahraga di teras rumah. Ya… yang ringan-ringan saja, hanya sekadar jalan kaki bolak-balik keliling teras, walaupun mungil ukuran terasnya, atau senam ringan dengan panduan video yang ada di YouTube. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini. Saya bekerja di rumah, anak pun sekolah di rumah juga.

Namun, sulitnya bukan main untuk merayu anak perempuan saya yang baru berusia 6 tahun itu. “Ayo nak kita bergerak sebentarrrr aja!” rayuku padanya yang tampak enggan sekali untuk mengikuti mamanya berolahraga.

Berkaca dari hal itu saya jadi ingat dengan salah satu narasumber yang sering saya wawancarai dulu. Yaitu dr. Michael Triangto, SpKO, seorang dokter spesialis kedokteran olahraga. Penasaran, yuk kita ulik lebih lanjut! Sejauhmana sih pentingnya olahraga bagi perkembangan anak seusia anak saya?

dr. Michael Triangto, SpKO dari Slim + Health, Sports Therapy di RS. Mitra Keluarga Kemayoran-Jakarta Pusat

Menurut dr. Michael Triangto, SpKO, jika seorang anak sudah malas atau takut untuk berolahraga, tubuhnya tetap berkembang namun sangat bergantung pada gen yang dimilikinya. “Apakah orangtuanya bertubuh kecil? Sudah barang tentu jika anak tidak berolahraga, tubuhnya akan tetap kecil seperti gen yang dimilikinya. Namun jika gennya kecil tapi cukup dalam beraktivitas fisik – cukup saja tidak berlebih karena kalau berlebih malah bisa rusak- anak dapat mengembangkan kemampuan tubuhnya untuk berkembang sampai pada titik maksimal.”

Bila anak dapat dipacu sampai pada titik maksimal, hasilnya otot si anak akan lebih bagus, demikian juga dengan tulang dan tinggi badannya. Anak menjadi lebih proporsional.

“Kalau sudah begini, mentalnya pun jadi lebih oke. Anak menjadi lebih percaya diri, tidak takut untuk mengikuti pertandingan, tidak takut menghadapi orang lain secara sportif,” urai Dokter yang sudah 25 tahun menggeluti dunia kedokteran olahraga ini.

Lakukan Cara Sederhana

Mengapa anak sampai takut berolahraga? Ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak mempunyai phobia termasuk berolahraga. Tentu saja trauma secara psikologis itu harus diselesaikan terlebih dahulu. Moms bisa merangsang anak beraktivitas fisik dalam bentuk permainan. Michael berpendapat, mungkin saja ada anak yang tidak suka menjalankan olah fisik tetapi dapat berprestasi di bidang akademis dan itu perlu diobservasi lagi dari awal apa sebetulnya yang mengakibatkan anak menjadi seperti itu.

Walaupun hanya bermain lempar bola, tangan, badan serta kaki anak dilatih. Atau main lompat tali, karena perkembangan tubuh anak dapat distimulasi dari aktivitas lari, lempar, dan lompat. Anak juga harus melatih keseimbangannya. Dengan naik sepeda atau berjalan meniti seutas tali yang diletakkan di lantai.

Olah Fisik Lewat Permainan

Michael mengatakan, lewat bermain pun anak sudah bisa dikatakan bergerak/olah fisik. Seperti bermain lempar bola, lompat tali, bola bekel, bahkan bermain congklak. “Tanpa kita sadari, permainan congklak itu melatih keterampilan tangan. Ada orang-orang yang tidak bisa bermain congklak walaupun kelihatannya sangat mudah. Setidaknya kita sudah melatih olah fisik anak dengan cara paling mudah. Doronglah anak untuk melakukan olah fisik dalam bentuk PERMAINAN bukan dalam bentuk KEHARUSAN. Kita tidak bisa terlalu muluk, misalkan harus cari waktu khusus, pergi ke Kebun Raya, lalu bermain bola di sana, mulai saja dari yang paling kecil,” saran dr. Michael.

Hati-hati Obesitas & Diabetes!

Michael kembali mewanti-wanti orangtua agar jangan sampai anak enggan melakukan aktivitas bermain atau olahraga yang cukup. Ancaman kesehatan yang pertama kali akan terjadi ialah anak akan lebih mudah mengalami obesitas dini. Obesitas pada masa kanak-kanak berarti sel-sel lemaknya bertambah banyak dan besar. Jika ia kelak membawanya hingga menjadi obesitas dewasa, maka akan lebih sulit diatasi daripada obesitas yang muncul setelah dewasa. “Selain itu kemungkinan untuk mengalami lipatan kulit yang menghitam di leher menjadi salah satu ciri anak akan terkena diabetes dini. Selain risiko penyakit, anak akan menjadi pribadi yang clumsy/kikuk yang tidak dapat mengantisipasi dengan cepat perubahan fisiknya, seperti mudah jatuh atau terpeleset saat berjalan dan sebagainya,” alas dr. Michael gamblang.

Sumber foto: Canva.com, Dokumentasi Pribadi.

Leave a comment

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑